BANDA ACEH — Gempa bumi berkekuatan magnitudo tinggi mengguncang wilayah Sagaing, Myanmar, pada Jumat pekan lalu (1/4), menewaskan sedikitnya 3.145 orang berdasarkan data resmi pemerintah setempat.
Ribuan bangunan hancur, infrastruktur lumpuh, dan mayat bergelimpangan di antara puing-puing, menciptakan pemandangan mirip “kiamat” di daerah yang juga dilanda konflik politik dan perang saudara ini.
Ko Zeyer (38), seorang pekerja sosial, menceritakan perjalanan 24 jam yang ia tempuh dari Mandalay ke kampung halamannya di Sagaing untuk menemui keluarga pasca gempa —yang biasanya hanya memakan waktu 45 menit.
Perjalan Ko Zeyer harus melewati Jembatan ambruk, jalan terbelah, dan reruntuhan di mana-mana. Saya seperti melewati neraka
Ko Zeyer mendapati keluarganya dalam keadaan selamat, tetapi banyak temannya yang meninggal dan sebagian besar kota itu hancur. Di sisi lain, para penyelamat berebut mencari bantuan dan sumber daya di negara yang kini dikuasai oleh junta militer dan dilanda perang saudara.
Di sekelilingnya, orang-orang masih terjebak di bawah reruntuhan. Hingga berita ini diturunkan, sudah ditemukan 3.145 korban tewas yang dikonfirmasi pemerintah setempat.
“Bau mayat telah memenuhi kota,” kata Ko Zeyar yang merupakan pekerja sosial, mengutip CNN, Sabtu (4/4).
Usai diguncang gempa, para korban mengantre untuk mendapatkan makanan dan air. Ada pula yang tidur di luar dengan alas tikar seadanya. Sementara itu, gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut.
“Hampir seluruh penduduk kota tinggal dan tidur di jalan, peron, atau lapangan sepak bola, termasuk saya sendiri. Itu menakutkan,” ucap Ko Zeyer.
“Saya tidak tidur di dalam, tetapi di ambang pintu sehingga saya dapat berlari dengan mudah kalau ada gempa susulan,” lanjutnya.
Guncangan gempa yang dahsyat telah menimbulkan krisis baru di negara Asia Tenggara tersebut. Hampir 20 juta orang sudah membutuhkan bantuan kemanusiaan setelah empat tahun perang saudara.
Sejauh mata memandang, petugas penyelamat sukarela Kyaw Min mengatakan rumah, sekolah, kuil, masjid, dan toko di Sagaing hancur.
“Tempat ini tampak seperti tempat kematian, seperti kota yang dibombardir dengan bom nuklir,” ujarnya.
Gempa bumi tersebut menyebabkan kerusakan luas di dekat Mandalay, tempat tinggal bagi sekitar 1,5 juta orang, dan ibu kota militer Naypyidaw. Gempa tersebut juga terasa di negara tetangga Thailand dan Tiongkok.
Selama berhari-hari, Kyaw Min dan relawan penyelamat telah menggali puing-puing dengan tangan kosong atau peralatan seadanya untuk mencari korban selamat.
“Kami berhasil menyelamatkan sebanyak mungkin orang dengan peralatan terbatas yang kami miliki,” ucap dia.
“Kami menemukan banyak mayat, termasuk anak-anak dan orang tua, mayat tanpa kepala, tangan, atau kaki. Kami telah mengalami pengalaman yang sangat mengerikan,” lanjutnya.
Sekitar 80 persen bangunan di Kota Sagaing, rusak akibat gempa dan terjadi kerusakan luas di seluruh kota pedesaan di sekitarnya, menurut Kyaw Min.
Jalan yang menghubungkan kota dan desa terpencil rusak dan berkelok-kelok, sehingga memperlambat upaya penyelamatan dan bantuan. Termasuk pengiriman alat berat seperti ekskavator dan backhoe.
“Misi penyelamatan atau bantuan tidak dapat segera tiba di Sagaing. Jembatan yang menghubungkan Sagaing rusak parah,” ucap Ko Zeyer.
“Itu sebabnya, banyak yang kehilangan nyawa. Sudah terlambat untuk menyelamatkan orang-orang ketika bantuan tiba,” sambungnya.
Sumber: CNN,