GAZA — Biro Statistik Pusat Palestina melaporkan lebih dari 39.000 anak di Gaza kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka sejak eskalasi konflik dengan Israel pada 7 Oktober 2023.
Data terbaru yang dikeluarkan menyebut total korban tewas mencapai 50.523 jiwa, dengan 114.776 orang terluka, dalam serangkaian serangan yang dituding pihak Palestina sebagai “tindakan genosida” oleh Israel.
Biro tersebut menyatakan Gaza kini menghadapi krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern, didorong oleh intensitas serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Puluhan ribu anak terancam kehilangan hak pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan psikologis,” tulis laporan itu, menyerukan respons darurat dari komunitas global.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang Hari Anak Palestina, yang diperingati 5 April, biro tersebut melaporkan 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua setelah 534 hari serangan Israel di Jalur Gaza.
Di antara mereka, sekitar 17.000 anak telah ditinggalkan tanpa kedua orang tua, menghadapi hidup tanpa dukungan atau perawatan.
Tentara pendudukan Israel melanjutkan serangannya terhadap warga sipil di Gaza, menghancurkan daerah kantong itu dan secara paksa menggusur lebih dari dua juta penduduknya.
Sementara itu, seakan bermuka dua, Jerman menyerukan “kembalinya segera ke perjanjian gencatan senjata” di Gaza di tengah meningkatnya serangan militer Israel di daerah kantong itu.
“Pemerintah Jerman mendesak untuk kembali ke gencatan senjata… Kami bekerja sangat keras untuk gencatan senjata dan, tentu saja, untuk perbaikan dalam situasi kemanusiaan, dan kami juga secara aktif menyerukan agar pasokan kemanusiaan ke Gaza diaktifkan kembali,” ungkap juru bicara sementara Kementerian Luar Negeri Amelie Titel dalam jumpa pers di Berlin.
“Pemerintah Jerman berkomitmen memastikan semua pihak menemukan solusi yang dinegosiasikan alih-alih meningkatkan situasi secara militer, dan kami tentu saja menyerukan kepada semua pihak untuk mencabut blokade pengiriman bantuan kemanusiaan dan melindungi penduduk sipil. Kami sangat berharap bahwa semua pihak akan menyetujui gencatan senjata dan bahwa pembicaraan akan terus berlanjut,” ujar dia.
Komentar juru bicara itu sangat kontras dengan keputusan terbaru negaranya untuk memberikan suara menentang resolusi Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang menyerukan, antara lain, gencatan senjata di Gaza, pembebasan tahanan Palestina dan Israel, dan pencabutan blokade Israel di daerah kantong yang diduduki itu.
Israel memulai operasi udara mendadak di Jalur Gaza pada 18 Maret dan telah menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.000 lainnya sejak saat itu, yang menghancurkan gencatan senjata dan perjanjian pertukaran tahanan pada bulan Januari.[]
Sumber iNews.id